” ana bilang ke MR ana supaya cepet2 menikahkah ant…” begitu pengakuan seorang sahabat saya.
halah… asli saya kaget. ternyata diam - diam saya diproposikan kesana kesini, ya ampuuun…. apa kata ummahat ? duh, ikhwah… ikhwah… saat mendengar pengakuan beliau, ada sedikit kesal dan juga sebongkah syukur serta terima kasih… bagaimanapun itu adalah bentuk kasih sayang. saking sayangnya sampai - sampai ursan jodoh sayapun dipikirin 
but, im 24 years old… iam still young.
nikah… nikah… nikah… topik itu seakan mengejar saya kemanapun, ketika bersama ortu, ngumpul dengan sahabat, ketika ngaji, ketika menghadiri walimahan, ketika mengikuti organisasi. dan yang paling menyebalkan, teman - teman ikhwan saya jadi ikutan jahil juga…
” kapan nikah ”
” buruan nikah, kiamat udah dekat ”
” ant kapan atuh ? ”
” buruan atuh masukin proposal ke guru ngaji ”
” diangkatan kita kan tinggal anti yang belum nikah…”
” ana mah ingin cepet - cepet jadi panitia pernikahan ant ”
etc…
etc…
kuping saya panas, saya merasa dikejar - kejar. saya merasa saya salah bahkan berdosa karena masih belum menikah juga. akhirnya jadi kepikiran terus dan yang paling gawat… kalau ada yang SMS agak2 aneh, saya jadi suka nervous… pun ketika berhadapan dengan ikhwan, saya jd salah tingkah. ujung- ujungnya saya jadi males berinteraksi dengan ikhwan. duh payah pisan.
lama - lama saya bisa sakit, sakit karena terus - terusan diprovokasi… terkondisikan oleh pertanyaan - pertanyaan konyol seputar nikah. yang paling konyol adalah komentar dari keluarga saya, saya katanya tidak punya motivasi dan keinginan untuk segera menikah. saya katanya menghindari setiap ikhwan yang punya niat sama saya, dan saya terlalu nyantai, waduh… pusing.
lagipula, kalaupun saya ingin nikah kan gampang tinggal bilang ke guru ngaji dan beres. masalahnya adalah, saya gak mau menikah gara - gara ditekan banyak pihak, orang sayanya juga biasa - biasa aja, enjoy saja… biar semua mengalir apa adanya, jika sudah waktunya… maka cinta ini akan berlabuh pada sepotong hati.
Saya ingin menikah dan menggenapkan setengah dien, bukankah itu sebuah kewajiban. Namun tidak sekarang… tidak sekarang…